PARBOABOA, Jakarta - Rangkaian bencana longsor yang melanda Sumatera Utara dan Aceh dalam beberapa hari terakhir.
Ratusan korban jiwa, ribuan pengungsi, serta akses transportasi yang lumpuh di berbagai wilayah.
Data terbaru BNPB, Jumat, 28 November 2025, mengungkapkan gambaran situasi yang masih berkembang dan membutuhkan penanganan intensif dari pemerintah pusat dan daerah.
Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., menyampaikan bahwa total korban meninggal akibat longsor yang menerjang tujuh wilayah di Sumatera Utara sudah mencapai 116 orang.
Tapanuli Tengah menjadi daerah dengan jumlah korban tertinggi, disusul Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, dan beberapa wilayah lain yang terdampak parah.
“Tapanuli Utara 11, Tapanuli Tengah 47, Tapanuli Selatan 32, Kota Sibolga 17, Kabupaten Humbang Hasundutan 6, Kota Padangsidimpuan 1, dan Kabupaten Bharat 2,” ungkap Suharyanto melalui konferensi pers update penanganan bencana di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, Jumat, 28 November 2025.
Sementara itu, Kabupaten Mandailing Natal menjadi satu-satunya wilayah terdampak yang tidak mencatat adanya korban jiwa. Namun, jumlah pengungsi di seluruh Sumatera Utara telah melampaui lebih dari 1.000 kepala keluarga.
Di Tapanuli Utara, pengungsian terpusat di jalur Tarutung–Sibolga, dengan sebuah bangunan gereja yang kini menjadi tempat penampungan sekitar 600 kepala keluarga.
Kondisi serupa terjadi di Tapanuli Tengah, yang memusatkan lebih dari 1.100 kepala keluarga di GOR milik pemerintah daerah.
Suharyanto juga menjelaskan bahwa Tapanuli Selatan menampung sekitar 150 kepala keluarga, Kota Sibolga sekitar 200 kepala keluarga, sedangkan Kabupaten Humbang Hasundutan menampung 150 kepala keluarga lainnya.
Sementara di Provinsi Aceh, BNPB mencatat 35 korban meninggal, 25 orang hilang, dan 8 warga mengalami luka-luka.
Korban terbanyak berasal dari wilayah Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Tenggara. Pendataan masih berlangsung di beberapa daerah lain seperti Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Singkil.
“Datanya terus berkembang. Untuk sementara ini, tercatat 35 jiwa yang meninggal dunia,” ujar Suharyanto.
Pengungsian di Aceh tersebar luas hingga di 20 kabupaten/kota. Kota Lhokseumawe tercatat memiliki 96 titik pengungsian, menjadikan distribusi logistik dan pelayanan dasar sebagai prioritas utama pemerintah.
“Hingga sore ini, jumlah pengungsi mencapai 4.846 kepala keluarga,” tambahnya.
Jalur Nasional Terputus
Kerusakan infrastruktur di Aceh tergolong parah. Jalur nasional yang menghubungkan perbatasan Sumut–Aceh terputus akibat longsor, menghambat mobilitas dan distribusi bantuan.
Kerusakan jembatan di Meureudu juga menutup akses vital Banda Aceh–Lhokseumawe–Aceh Timur–Langsa–Aceh Tamiang.
Beberapa kabupaten seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah kini sepenuhnya terisolasi karena jalan nasional dan jembatan mengalami kerusakan total.
Satu-satunya akses yang bisa dimanfaatkan adalah jalur udara melalui Bandara Perintis Gayo Lues dan Bandara Rembele Bener Meriah.
Untuk menjamin kelancaran komunikasi darurat, perangkat Starlink telah dipasang di sejumlah wilayah utama seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah, serta akan ditambah di lokasi lainnya.
Distribusi logistik mulai mengalir, termasuk penyaluran bahan kebutuhan pokok seperti beras, mie instan, telur, minyak goreng, gula, diapers, serta obat-obatan di Kota Lhokseumawe dan daerah terdampak lainnya.
Pemerintah pusat juga mengerahkan 26 personel BNPB untuk mempercepat penanganan serta mengirimkan bantuan Presiden menggunakan tiga pesawat Hercules.
Bantuan tersebut mencakup beras, gula, minyak, mie instan, tenda, genset, alat komunikasi, kompresor, dan LCR untuk mendukung operasi penyelamatan.
