Uskup Paulus Budi Kleden dan Kasih Persaudaraan di Hari Lebaran

Uskup Paulus Budi Kleden (mengenakan topi ungu kemerahan) diapit para pemuka agama Islam setelah Shalat Ied di Lapangan Pancasila Ende (Foto: FB/@Komsos Keuskupan Agung Ende)

PARBOABOA, Jakarta - Ende dikenal sebagai kota yang kaya akan sejarah dan budaya. Di hari lebaran, kota berjuluk "tempat lahirnya Pancasila" ini menunjukkan wajah toleransi yang begitu kental. 

Momen Idul Fitri 1446 Hijriah yang jatuh pada Senin (31/03/2035), menjadi saksi bagaimana kasih persaudaraan tetap terpelihara di tengah keberagaman. 

Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, menjadi contoh nyata bagaimana sikap sederhana dan penuh ketulusan dapat mempererat hubungan antar umat beragama.  

Mengikuti moto tahbisan Uskupnya, “Caritas Fraternitatis Maneat In Vobis” (Peliharalah Kasih Persaudaraan), Uskup Budi merayakan Idul Fitri bersama umat Muslim di Ende dengan cara yang sederhana namun penuh makna. 

Dalam sebuah video yang beredar luas di media sosial, tampak Uskup Budi mengenakan kemeja putih dan datang seorang diri ke rumah-rumah tetangga Muslim di sekitar Istana Keuskupan Agung Ende, Ndona.  

Sikapnya yang penuh kehangatan terlihat jelas saat ia duduk santai di lantai bersama tuan rumah dan larut dalam obrolan yang akrab. 

Tidak ada sekat dan perbedaan yang menghalangi kasih persaudaraan. Kehadirannya pun disambut dengan senyum dan kebahagiaan oleh umat Muslim yang merayakan Lebaran. 

Tindakan ini menuai pujian dari banyak pihak, termasuk netizen yang menyaksikan video tersebut. Mereka beramai-ramai memberikan komentar positif untuk Uskup Budi.

“Keteladanan yang patut dicontoh. Salam toleransi,” tulis akun IG @florentiasugiyatun mengomentari video yang beredar.  

"Kalo mau ngerasain toleransi datang ke Ende," tulis akun lain bernama @gaayohan.

Tak terkecuali netizen, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Ende, Abdul Syukur Muhammad, mengungkapkan kekagumannya terhadap Uskup Budi. 

“Beliau seorang pemimpin umat, tetapi memiliki kepedulian dan menunjukkan kesederhanaannya kepada kita,” ujarnya dalam sebuah keterangan, Senin (31/03/2025).  

Bagi Abdul, silaturahmi yang dilakukan Uskup Budi bukan sekadar sebuah kunjungan biasa, melainkan bentuk nyata dari warisan nilai-nilai luhur yang telah lama tertanam di Ende. 

“Ini mengingatkan kita bahwa kita adalah satu, dan silaturahmi seperti ini sudah ada sejak zaman leluhur,” tambahnya.  

Lebih dari itu, ia menegaskan bahwa tindakan Uskup Budi adalah simbol bahwa tetangga, meskipun berbeda keyakinan, tetaplah bagian dari keluarga. 

“Beliau menunjukkan bahwa tetangga (yang beragama Muslim) adalah bagian dari keluarga. Ini sangat luar biasa. Sikap seperti ini harus kita pelihara,” katanya.  

Sebelumnya, Uskup Budi juga menghadiri pelaksanaan shalat Ied di Lapangan Pancasila, Ende. Kehadirannya disebut sejumlah pihak sebagai bukti nyata kuatnya toleransi beragama di Ende.  

Bersama Bupati Ende, Yosef Badeoda dan Wakil Bupati, Dominikus Minggu Mere serta para pimpinan instansi dan pemuka agama, Uskup Budi menyampaikan langsung ucapan selamat Idul Fitri kepada umat Muslim. Ucapan itu disambut penuh sukacita oleh masyarakat yang hadir.  

Dalam pesannya, Uskup Budi menekankan bahwa Idul Fitri bukan hanya hari kemenangan bagi umat Muslim, tetapi juga menjadi momen kebersamaan bagi seluruh masyarakat. 

“Momentum seperti ini memperkuat kerukunan, silaturahmi, dan persaudaraan. Toleransi kita sangat baik, sehingga harus kita rawat dan pelihara dalam kehidupan bersama,” ujarnya.  

Warisan Nilai Solidaritas

Sejak pertama kali ditugaskan menjadi pemimpin Gereja Katolik Ende, Uskup Budi melihat kehidupan masyarakat sebagai cerminan harmoni yang sudah lama ada. 

“Saya alami sendiri dalam penjemputan dan tahbisan saya sebagai Uskup. Saya diterima oleh seluruh umat beragama di Ende. Ini adalah kekayaan yang harus kita jaga,” ungkapnya sebagaimana dilansir dari Komisi Komunikasi (Komsos) Keuskupan Agung Ende.  

Tindakan sederhana, seperti hadir dalam perayaan umat lain dan memberikan ucapan selamat, menurutnya adalah bagian dari tradisi yang harus tetap dipertahankan. 

“Silaturahmi dan ucapan selamat adalah kebiasaan kita di Ende. Yang baik seperti ini harus diteruskan dan dipelihara,” tuturnya.  

Di tengah dunia yang semakin rentan terhadap perpecahan akibat perbedaan, apa yang terjadi di Ende memberikan harapan bahwa persaudaraan sejati masih bisa tumbuh dan berkembang. 

Dari kota kecil di pulau Flores itu, publik belajar bahwa toleransi bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata yang bisa dirasakan oleh semua orang.  

Dengan kesederhanaannya, Uskup Budi telah menunjukkan bahwa kasih persaudaraan tidak mengenal batas agama. Sikapnya mengajarkan publik bahwa dalam perbedaan, selalu ada ruang untuk kebersamaan. 

Ende, sekali lagi, menjadi contoh bahwa Indonesia yang harmonis bukanlah sekedar impian, tetapi kenyataan yang bisa kita wujudkan bersama.

Editor: Defri Ngo
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS